Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Strategi Lulusan SMK Menjadi Wirausaha Otomotif

Strategi Lulusan SMK Menjadi Wirausaha Otomotif

Persepsi masyarakat luas terhadap lembaga SMK adalah lulusannya yang memiliki keterampilan dan dapat bekerja sesuai dengan bidangnya. Tenaga kerja dari lulusan SMK dapat kita jumpai mulai dari tempat usaha kecil, menengah, bahkan sampai dunia industri berskala besar. 

Menurut (Khotimah et al., 2017) keterserapan lulusan SMK di dunia industri, sesuai dengan kompetensinya dan mereka mampu bekerja secara mandiri (berwirausaha). Misalkan lulusan SMK dengan keahlian bidang otomotif, maka kita dapat menjumpai lulusan SMK yang berkarir di bengkel servis sepeda motor. 

Bengkel yang menjadi tempat berkarir bisa mulai dari bengkel resmi sampai di bengkel mandiri atau bahkan berkarir di dunia industri berskala besar. Keberhasilannya memasuki dunia kerja tentu tidak terlepas dari suatu strategi. 

Karena strategi suatu alat untuk mencapai tujuan (Harisudin, 2011). Strategi yang digunakan bisa melalui jaringan, baik jaringan yang dibentuk oleh SMK yaitu BKK ataupun jaringan yang dimiliki secara personal. 

Menurut (Prasetyawan, 2020) bisa kerja kusus sebagai jembatan yang menjembatani antara dunia kerja dengan SDM yang tersedia, berdasakan kerja sama sekolah dengan dunia industri. Kelebihan dari bentuk kerja sama tersebut, lulusan SMK dapat melanjutkan hubungan secara pribadi supaya lebih dekat lagi. 

Strategi yang digunakan tersebut dapat dimanfaatkan ketika para lulusan SMK akan menjadi pengusaha. Maka strategi sangat penting sekali bagi lulusan SMK untuk dimanfaatkan secara pribadi menjadi pengusaha setelah lulus. 

Menurut (Jaharuddin et al., 2019) cara untuk melahirkan pengusaha baru yakni dengan cara memberikan keterampilan berupa strategi pemasaran, laporan keuangan, dan pola pikir. Untuk menjadi pengusaha, strategi yang dapat digunakan oleh lulusan SMK yaitu dengan berkarir terlebih dahulu yang sesuai dengan bidang keahliannya. 

Dengan berkarir, seseorang akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang baru. Lamanya bekerja sangat dominan dengan kinerja, dikarenakan faktor kegiatan yang berulang-ulang tanpa disadari bahwa mereka telah menerima proses pembelajaran dan akan mengendap pada pola pikir mereka sehingga membentuk sebuah karakter (Arizal, 2014). 

Adapaun untuk mengawali menjadi pengusaha baru, menurut (Jaharuddin et al., 2019) keep it small and simple, artinya bahwa untuk memulai usaha dapat dilakukan sesuai dengan keahliannya. Selain keahlian, yang harus dimiliki oleh calon pengusaha adalah pengalaman dan strategi. 

Pengalaman salah satunya bisa didapatkan ketika bekerja sebagai karyawan. Mengingat strategi sebagai alat maka para calon pengusaha dan pengusaha harus memiliki dan menggunakannya. 

Pengusaha sangat identik dengan pola pikir yang berkembang, yakni memiliki gairah yang tinggi, ketekunan, ketekadan, dan kegigihan. Fokus pada proses yang mengarah pada pembelajaran seperti bekerja keras atau mencoba strategi baru dapat menumbuhkan pola pikir yang berkembang, (Dweck, 2015). 

Berawal dari pola pikir, ekspektasi akan menjadi nyata melalui perilaku. Pola pikir dan perilaku pengusaha digolongkan menjadi tiga bagian yakni learning, spiritual, dan pengembangan (Prastiwi et al., 2019). 

Menurut (Yeager et al., 2019) melalui intervensi mindset berkembang, kemampuan intelektual dapat dikembangkan. Maka dapat dipungkiri apabila lulusan SMK kejuruan otomotif dapat sukses menjadi pengusaha dibidang otomotif. 

Menurut (J. H. Dyer et al., 2009) pengusaha memiliki lima ketrampilan (DNA Inovator) yakni asosiasi, berpikir kritis dan kreatif, mengamati, meningkatkan jejaring, dan melakukan percobaan. Selanjutnya menurut (Periera et al., 2017) dukungan orang tua merupakan salah satu faktor yang mempunyai peran untuk mengembangkan potensi dan minat dalam berwirausaha. 

Para pengusaha pasti memerlukan restu dan dukungan dari keluarga sebagai kekuatan, keberanian, dan penyemangat untuk melaksanakannya (Komara et al., 2020).

Berkarir Sebagai Karyawan Sesuai dengan Bidangnya

Bekerja merupakan proses belajar maka dari itu tanpa disadari bahwa orang akan semakin mahir dengan semakin lama bekerja sesuai dengan bidangnya, (Arizal, 2014). Keempat informan setelah lulus SMK bekerja sebagai karyawan sesuai dengan karakternya. 

Informan pertama memilih bekerja sebagai karyawan bengkel servis sepeda motor. Informan pertama bertahan sebagai karyawan dalam kurun waktu dua tahun, kemudian resign. Informan pertama pada saat menjadi mekanik bengkel servis sepeda motor lebih sering menservis vespa klasik. 

Adapun informan kedua setelah lulus langsung mendapatkan pekerjaan sebagai mekanik bengkel sepeda motor di bengkel resmi AHASS. Informan kedua lebih banyak memilik pegalaman dibandingkan dengan informan pertama. 

Informan kedua pernah ditempatkan dibengkel anak cabang dan dijadikan sebagai penanggung jawab bengkel tersebut. Tidak jauh berbeda dengan informan pertama, informan kedua juga memilih resign setelah bekerja selama dua tahun. 

Selanjutnya informan ketiga, memilih bekerja sebagai karyawan dibengkel balap sepeda motor. Informan ketiga sedikit berbeda dengan informan pertama dan kedua, informan ketiga bekerja sebagai karyawan lebih menitik beratkan untuk mencocokkan apa yang sudah pernah dipelajarinya sekaligus belajar. 

Setelah berjalan selama satu tahun informan ketiga memberanikan diri untuk resign. Kemudian yang terakhir informan keempat, berkarir sebagai karyawan dibengkel Servis AC Mobil. Informan keempat memberanikan diri mengambil keputusan untuk resign setelah bekerja dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. 

Menurut (Herliana, 2019) SMK kejuruan otomotif sangat diminati oleh masyarakat dan lulusannya juga bekerja sesuai dengan kompetensinya. Apabila memiliki keahlian otomotif kemudian bekerja sesuai dengan bidangnya maka akan melakukannya dengan sepenuh hati (Aliyah et al., 2019). 

Mereka akan menikmati seluruh aktivitas yang berhubungan dengan dunia otomotif, lebih detailnya sesuai dengan keahliannya. Aktivitas tersebut akan dilakukan semaksimal mungkin sampai mencapai hasil yang terbaik dan mendapatkan pengalaman yang baik. 

Menurut (Permana et al., 2019) pengalaman tersebut berupa pengetahuan, ketrampilan, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, memiliki ambisi untuk maju, dan berusaha mengikuti perkembangan sesuai dengan keahliannya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. 

Keberhasilan individu dalam berkarir sesuai dengan bidangnya ditentukan oleh tekad, bakat, minat, dan kepercayaan diri. Menurut (Alimudin et al., 2019) sikap, tekad, semangat, dan komitmen akan muncul secara bersamaan dengan kematangan pribadinya. 

Tingkat kematangan ini lah perkembangan yang sempurna dari setiap individu yang dapat dimanfaatkan. Keempat informan memiliki kesamaan pada kematangan karir mereka sehingga mereka memilih untuk resign kemudian merintis usaha mandiri sesuai dengan keahliannnya.

Memiliki Growt Mindset

Pada dasarnya manusia memiliki pola pikir yang berkembang (Dweck, 2015). Kegigihan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan mengajarkan ketabahan dan mendorong pertumbuhan (Hochanadel et al., 2015). 

Keempat informan belajar bertahan dan berkembang pada saat berkarir, sehingga keempat informan pada saat resign sudah memiliki pola pikir yang berkembang. Gairah, ketekunan, ketekadan, dan kegigihan dalam bekerja menjadi landasan penting untuk menjadi pengusaha. 

Informan pertama memulai bisnis nya dengan membuka bengkel servis sepeda motor merk Jepang dan menjual spare part serta aksesoris vespa klasik. 

Dengan ketekadannya yang tinggi informan pertama menjual spare part dan aksesoris vespa dengan cara keliling ke berbagai daerah setiap ada acara vespa klasik. Informan pertama mencari barang bekas untuk dijual dari tempat rongsokan dan barang baru dari distributor. 

Selain menjual secara offline, informan pertama juga menjual melalui media sosial yakni facebook, whatsapp, dan instagram. Seiring berjalannya waktu, merasakan keberhasilan dari hasil menjual spare part dan aksesoris vespa klasik. 

Dari pengalaman tersebut informan pertama memutuskan hanya bergerak pada bidang berdagang swalayan vespa sampai saat ini. Secara bidang tidak jauh berbeda dengan informan kedua, adapun informan kedua adalah menjadi pengusaha bengkel servis sepeda motor dan menjual spare part sampai saat ini. 

Kemudian informan ketiga memiliki gairah dan ketekunan pada bidang bengkel balap sepeda motor. Tidak hanya memodifikasi mesin balap saja, akan tetapi informan ketiga juga melayani indusri manufaktur. 

Seiring berkembangnya teknologi, informan ketiga juga terus mengikuti perkembangan tersebut, dikarenakan bidang yang kerjakan saat ini bergerak pada kompetisi dan kekinian. Selanjutnya informan keempat memiliki ketrampilan dan menekuninya sampai saat ini di bidang servis AC Mobil. 

Informan keempat juga selalu mengikuti perkembangan teknologi, dikarenakan bidang yang dikerjakan pada kemajuan teknologi. 

Keempat informan sama-sama memiliki pola pikir yang berkembang yakni kegigihan, ketekunan, ketekadan, dan kegairahan yang tinggi akan tetapi dalam menjalankannya sesuai dengan ketrampilan masing-masing. 

Menurut (Rangarajan et al., 2017) individu memiliki personal branding inrisik sebagai hasil dari kualitas kepribadian, pengalaman, dan pengembangan masa lalu, dan komunikasi dengan orang lain baik yang diketahuinya ataupun tidak. Keempat informan memiliki personal branding yang terbentuk melalui kekhasan mereka dan nalurinya.

Memiliki Lima Ketrampilan (DNA Inovator)

Berwirausaaha adalah proses bagaimana mengaplikasikan inovasi dan kreativitas untuk menyelesaikan masalah dan memanfaatkan peluang yang didapat oleh setiap pengusaha (Drucker, 2014). Berwirausaha bukanlah mistis akan tetapi sebuah pengetahuan disiplin yang dapat dipelajari oleh siapapun. 

Keempat informan telah sama-sama memiliki kematangan baik dari segi pengetahuan maupun pengalaman. Adapun proses untuk menghasilkan kematangan tersebut didapatkan melalui lima ketrampilan DNA Inovator. 

Menurut (J. Dyer et al., 2019) kemampuan seseoang untuk menghasilkan ide inovatif tidak hanya hasil dari fikiran akan tetapi juga berasal dari perilaku, tepatnya lima perilaku tersebut membentuk DNA Inovator yakni ketrampilan asosiasi, bertanya (berpikir kritis dan inovatif), jejaring, pengamatan, dan melakukan percobaan. 

Keempat informan telah sama-sama memiliki lima ketrampilan DNA inovator pada jalurnya masing-masing. Informan pertama memiliki lima ketrampilan pada usaha yang dimilikinya, yakni usaha dagang spare part, aksesoris, unit vespa, dan restorasi khusus vespa klasik. 

Selanjutnya informan kedua merepresentasikan lima ketrapila DNA Inovator kedalam bengkel servis sepeda motor, modifikasi mesin balap, dan menjual spare part. 

Kemudian informan ketiga menuagkan lima ketrampilan DNA Inovator sesuai dengan nalurinya yakni membuka bengkel balap sepeda motor, industri manufaktur, dan modifikasi sepeda motor. Adapun informan keempat juga memiliki lima keahlian DNA Inovator yang bergerak pada dunia otomotif yakni servis AC Mobil dan menjual spare part AC Mobil. 

Konsistensi keempat informan dapat diresentasikan dalam wujud kepemiminan dan pengendalian yang total pada bisnis yang dijalankan dengan berbagai tantangan. 

Ketrampilan asosiasi, keempat informan sama-sama memiliki kesamaan yakni mendirikan usahanya secaa mandiri, mewujudkan keahllian dengan perpaduan pengetahuan dan pengalaman yang di bungkus dengan hobi dan naluri, totalitas memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya, bertanggung jawab dan mengutamakan kenyamanan terhadap konsumen.

Adapun informan ketiga memiliki kelebihan yang tidak sama dengan informan lain, yakni hasil karyanya berhasil menjuarai kompetisi balap motor drag race diberbagai daerah. 

Selanjutnya ketrampilan bertanya atau berpikir kritis dan inovatif, keempat informan sama-sama dapat berpikir krtitis dan inovatif dengan dibuktikan kedalam bentuk konsistensi dalam pekerjaannya, tidak memiliki pekerjaan lain dan pengembangan bisnis sejalan dengan usahanya. 

Kemudian ketrampilan mengamati, keempat informan sama-sama memiliki kesamaan pada DNA mengamati yakni pengamatan yang tajam untuk mempertahankan bisnisnya dapat dilakukan untuk mengamati pelanggan dan mengamati bisnis yang dijalankannya. 

Usaha yang dimilikinya harus memiliki keunikan, memotivasi dirinya sendiri untuk meningkatkan rasa percaya dirinya, rasa percaya diri tersebut dapat menyingkirkan rasa kekhawatirannya baik dari hasil karyanya maupun pesaingnya. 

Kemudian ketrampilan melakukan jejaring, keempat informan memiliki kesamaan untuk mencari jejaring yang sesuai dengan bisnis yang dijalankannya. Keempat informan memiliki jaringan dalam lingkup yang sama, yang mana hal tersebut sangat menunjang bagi bisnisnya dari segi pendapatan, brand, dan pertahanan bisnisnya. 

Kemudian keempat informan melakukan kerjasama dengan pemiliki usaha lain yang serumpun. Selanjutnya ketrampilan DNA yang kelima yakni melakukan percobaan. Informan pertama melakukan percobaan bisnisnya terait dengan manajemen dan administrasi, mengingat bisnisnya bergerak pada bidang dagang dan jasa, adapun percobaan yang dilakukan yakni memberikan harga promo setiap hari jumat. 

Harga promo tersebut diberlakukan untuk spare part dan variasi vespa klasik yang memiliki stok yang banyak. Selanjutnya informan kedua lebih menitik beratkan untuk mengerjakan pekerjaan yang ringan yakni servis ringan dan berat sepeda motor. 

Selanjutnya informan ketiga, sangat sering dan intens melakukan percobaan pada bidang permesinan. Informan ketiga sangat mengikuti dan mempelajari setiap ada teknologi baru. Selanjutnya informan keempat, melakukan percobaan pada bidang sistem AC Mobil. 

Mengingat teknologi selalu berkembang apa yang dilakukan oleh informan keempat tidak jauh berbeda dengan informan ketiga dalam lingkup mempelajari teknologi. Dalam melakukan ketrampilan DNA eksperimen, keempat informan memiliki kesamaan yakni sama-sama melakukan percobaan pada bisnisnya masing-masing.

Bona Pasogit
Bona Pasogit Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Strategi Lulusan SMK Menjadi Wirausaha Otomotif"

close