Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Pengapian Elektonik ESA

Sistem Pengapian Elektonik ESA - Menurut Daryanto (2002: 258), sistem pengapian kendaraan merupakan sistem yang berfungsi untuk menghasilkan percikan bunga api yang kuat dan tepat pada busi untuk memulai proses pembakaran. Menurut Kuswana (2014:65) sistem pengapian (ignition system) , terdapat komponen-komponen yang dapat menaikkan tegangan rendah baterai dari 12 V menjadi sekitar 18- 20 KV yang selanjutnya tegangan tinggi tersebut dididistribusikan ke masingmasing, coil, kabel tengan tinggi dan busi. 

Percikan bunga api yang muncul pada busi harus terjadi di saat yang tepat (pada akhir langkah kompresi untuk menjamin pembakaran yang baik walaupun kecepatan berubah-ubah, tetapi mesin tetap bekerja dengan halus dan ekonomis.

Sistem Pengapian Elektonik ESA
Komponen Sistem Pengapian
Sistem pengapian adalah sistem yang berfungsi menyediakan, menghasilkan dan membangkitkan percikan bunga api listrik di busi pada saat yang tepat untuk memulai proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar di dalam ruang bakar pada mesin bensin sehingga terjadi pembakaran yang sempurna dan mesin bekerja secara optimal. 

Sistem pengapian elektronik mempunyai efisiensi yang lebih besar bila dibandingkan dengan pengapian konvensional, Sistem pengapian ini memanfaatkan komponen elektronik seperti transistor, resistor, dll untuk memutus dan menghubungkan arus primer koil sebagai timing waktu penyalaan. 

Jika pada sistem pengapian konvensional pemutusan arus primer koil dilakukan secara mekanis dengan membuka dan menutup kontak pemutus, maka pada sistem pengapian elektronik pemutusan arus primer koil dilakukan secara elektronik. 

Sudarwanto (2011:41) menyebutkan kelamahan sistem pengapian konvensiaonal dengan menggunakan alat pemutus (platina) yang bersifat mekanis kurang efektif karena menghasilkan tegangan yang fluktuatif terutama saat putaran tinggi. 

Besarnya arus primer memberi dampak pemborosan pada keausan platina sehingga harus ada penyetelan berkala. Seiring perkembangan teknologi yang semakin maju dan masih terdapatnya beberapa kelemahan pada sistem pengapian konvensional kemudian dikembangkanlah pengapian elektronik yang dikontrol secara elektronik. 

Pada dasarnya sistem penyalaan elektronik adalah sistem penyalaan yang saat induksi. Berikut macam-macam sistem pengapian elektronik: 

a. Transistorized Coil Ignition (TCI) 

Sistem pengapian ini mengaplikasikan transistor sebagai pengontrol arus primer pada rangkaian koil. Dengan memasang sebuah unit control pada rangkaian primer, listrik yang bekerja pada rangkian pemutus menjadi lebih ringan . Rangkian ini mengaplikasikan pengontrol arus primer pada rangkaian koil, Sutiman (2011:26) 

b. Capasitor Discarge Ignition (CDI) 

Model sistem pengapian elektronik jenis CDI bekerja berdasarkan prinsip pengisisn dan pengosongan kapasitor. Sistem ini lebih baiak dari sistem pengapian konvensional. Sistem CDI banyak diaplikasikan untuk mesin putaran tinggi karena kemampuannya bekerja pada frekuensi yang tinggi. Aplikasi sistem ini banyak dijumpai terutama pada sepeda motor. Sutiman (2011:15).

c. EMS 

Model pengontrolan ini dikenal sebagai Engine Management System (EMS), yaitu pengontrolan kerja mesin secara terpadu melalui sistem kontrol elektronik. 

Pengontrolan model ini akan diperoleh peningkatan efisiensi bahan bakar, mudah dalam pengendalian, memiliki sistem diagnosa sendiri (Self Diagnosis) yang dapat diakses dengan mudah, serta menghasilkan emisi gas buang yang rendah atau ramah lingkungan. 

Tujuan pengontrolan mesin pada sistem pengapiannya adalah untuk dapat memberikan sistem pengapian yang optimal hingga dapat tercapai torsi yang optimum, emisi gas buang yang rendah, irit (efisien) dalam penggunaan bahan bakar dan pengendaraan /pengendalian yang baik serta meminimalkan engine knock. 

(Sudarwanto, 2011: 49). Menurut Sutiman (2011:41) Engine Management System (EMS) yaitu pengontrolan mesin secara terpadu melalui sistem kontrol elektronik. Dengan pengontrolan model ini akan diperolah penigkatan efisiensi bahan bakar, mudah dalam pengendalian, memiliki sistem diagnosa sendiri (self diagnosis) yang dapat diakses dengan mudah , serta menghasilkan emisi gas buang yang rendah atau ramah lingkungan. 

Tujuan pengontrolan mesin pada pengapiannya adalah memberikan sisitem pengapian yang optimal sehinga dapat tercapai torsi yang optimum , emisi gas buang yang rendah, irit (efisien) dalam penggunaan bahan bakar dan pengendaraan dan pengendalian yang baik serta meminimalkan engine knock. Menurut Solikin (2005:35) Sistem kontrol elektronik dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu: 
Sistem Pengapian Elektonik ESA
Skema Kerja ECU
  1. Sensor berfungsi untuk mendeteksi kondisi kendaraan sebagai masukan ECU.
  2. Electronic Control Unit (ECU) berfungsi untuk memproses masukan dari sensor untuk mengontrol aktuator. 
  3. Actuator merupakan bagian yang dikontrol ECU untuk melakukan aktivitas sesuai kontrol oleh ECU. 
Komponen Sistem Pengapian Elektronik/ESA. Diantaranya adalah: 
  1. Baterai, berfungsi untuk menyuplai (menyediakan) listrik ke sistem pengapian, komponen sistem kelistrikan lainnya. 
  2. Kunci Kontak, berfungsi untuk memutus dan menghubungkan arus listrik pada rangkaian atau mematikan dan menghidupkan sistem kelistrikan. Kunci kontak juga bekerja untuk mematikan kerja mesin. Tidak bekerjanya sistem pengapian maka mesin tidak akan hidup karena busi tidak memercikan bunga api untuk memulai proses pembakaran (Sudarwanto, 2011: 20). 
  3. Sekring adalah suatu alat yang digunakan sebagai pengaman dalam suatu rangkaian listrik apabila terjadi kelebihan muatan listrik atau suatu hubungan arus pendek. 
  4. Relay, adalah komponen elektronika yang berupa saklar atau switch electric yang dioperasikan menggunakan listrik. Relay memiliki fungsi sebagai saklar elektrik. Namun jika diaplikasikan ke dalam rangkaian elektronika 
  5. Electronic Control Unit (ECU), berfungsi untuk mengontrol sistem kelistrikan pada kendaraan. ECU bekerja berdasarkan sensor-sensor yang ada pada kendaraan. Kemudian ECU memproses masukan dari sensor untuk mengontrol kerja dari aktuator Solikin, (2005: 54).
  6. Distributor atau IIA (Integrated Ignition System) terdiri dari komponen distributor, pick-up coil, koil pengapian dan igniter. 
  7. Signal Generator, terdapat pembangkit gelombang listrik (signal generator) pada distributor. Signal ignition plug central terminal generator terdiri dari pick-up coil dan reluctor atau signal rotor yang dipasang pada poros distributor. Saat poros distributor berputar, maka rotor akan melewati pick-up coil, sehingga pickup coil menghasilkan gelombang listrik

Posting Komentar untuk "Sistem Pengapian Elektonik ESA"