Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Rem Pada Mobil

Sistem Rem Pada Mobil

Sistem rem pada kendaraan merupakan salah satu komponen penting keamanan dalam berkendara, tidak berfungsinya rem dapat menimbulkan bahaya, dan ini penting sekali dalam pekerjaan membongkar, memeriksa, menyetel, dan memperbaiki serta merakitnya dengan secermat mungkin. 

Adapun fungsi dari sistem rem itu sendiri adalah untuk mengurangi kecepatan sampai menghentikan kendaraan, mengontrol kecepatan selama berkendara, dan menahan kendaraan pada saat parkir dan berhenti pada jalan yang menurun atau menanjak.

Sebelum mengenal lebih jauh rem, ada baiknya kita ditinjau perkembangan teknoogi rem ini. Tanpa rem, kita tak akan bisa berkendara dengan mobil karena akan terlalu berbahaya. Itu sebabnya perkembangan sistem rem menjadi bagian integral dari kemajuan teknologi otomotif. 

Saat ini, kita dengan santainya tinggal menginjak rem jika hendak memperlambat kendaraan. Tak perlu takut rem mengunci karena sudah ada ABS, tak perlu khawatir blong mengingat material remnya sudah hebat. 

Cukup menginjak dengan tenaga sedikit saja, karena ada sistem hidraulis yang membantu kekuatan pengereman. Selain itu ada sederet fi tur elektronik lain yang siap membantu kerja rem agar semakin efektif, dan dapat menghentikan kendaraan secara aman. 

 Balik ke 120 tahun lalu, sistem rem begitu sederhana. Sistem ini hanya berbentuk balok kayu yang melalui tuas ditempelkan ke roda sehingga menimbulkan gesekan untuk memperlambat kendaraan. Sistem ini bahkan lebih sederhana daripada rem sepeda mini. 

Tentu saja saat itu rem tadi dianggap cukup, karena kecepatan kendaraan pun sedemikian rendahnya, bahkan lebih pelan daripada seseorang yang berlari. Tapi seiring meningkatnya teknologi dan kecepatan, mau tak mau rem pun mengalami evolusi. 

Baru pada 1902, atau sekitar 17 tahun setelah mobil bermesin pertama dibuat, timbul kebutuhan akan rem yang lebih memadai. Louis Renault disebut sebagai salah satu pionir rem teromol. Rem model drum dengan sepatu rem di dalamnya, membuat sistem pengereman ini sangat efektif di zamannya.

Masih di tahun sama, William Lanchester dari Inggris mematenkan jenis rem baru, yakni cakram. Modelnya lebih sederhana dan mampu membuang panas lebih cepat. Sayangnya, konsep itu belum bisa diterima di masanya. 

Bentuk rem terbuka membuat debu mudah mengotori sepatu rem, lagipula ketika itu belum diperlukan rem yang mampu melepas panas secara cepat. Alhasil, hampir semua mobil di dunia menggunakan rem teromol. 

Memasuki era 1910-an, kegilaan orang akan balap mulai berkembang. Sistem rem pun lantas mengalami lompatan signifi kan di 1918 ketika Malcolm Loughead, salah satu pendiri Lockheed Aircraft Corporation menemukan sistem hidraulis. 

Memanfaatkan hukum bejana dari Bernoulli, sistem rem hidraulis memungkinkan kita mengerem dengan tenaga injakan pedal lebih sedikit. Memasuki era 1950-an yang banyak disebut sebagai era keemasan dunia otomotif pasca Perang Dunia, kecepatan mobil semakin menggila. 

Di saat inilah pabrikan mobil teringat kembali akan penemuan William Lanchester, yakni rem cakram. Chrysler pun menjadi pabrikan pertama yang mengaplikasikan rem cakram yang digabung dengan sistem hidraulis.

Sistem Rem Pada Mobil

Sejak saat itu, perkembangan teknologi rem agak tersendat karena sudah dianggap memadai. Butuh sekitar 20 tahun untuk menyadari bahwa sistem pengereman mobil memiliki cacat bawaan yang mengerikan. Saat direm keras hingga mengunci, mobil tidak akan bisa dikendalikan sama sekali. 

Fenomena ini merenggut banyak nyawa sampai akhirnya ABS ditemukan. ABS di keempat roda yang dikendalikan penuh oleh komputer pertama kali hadir di Mercedes Benz S-Class pada 1978. Dan era pengereman modern berbasis komputer pun dimulai. 

Peranti elektronik lantas banyak memainkan peranan penting dalam memaksimalkan sistem rem. Kehadiran EBD (Electronic BrakeForce Distribution) makin menyempurnakan ABS dengan membagi daya pengereman sesuai kebutuhan masing-masing roda. 

Bahkan memasuki 1990-an, sistem pengerem an dipakai sebagai salah satu perangkat penunjang sistem kontrol kestabilan. Saat mobil tidak terkendali, komputer akan mengaktifkan rem secara individual untuk mengembalikan posisi mobil. 

Dan sekarang, kita tinggal menikmati hasil jerih payah para penemu teknologi rem. Berkendara pun semakin nyaman dan aman. Dilihat dari bentuk dan cara kerjanya, ada empat jenis rem yang dikenal dan diaplikasi di berbagai jenis kendaraan.

Cakram Rem ini berbentuk piringan dengan sepatu rem menjepit piringannya. Rem ini sekarang paling populer karena sanggup melepas panas dengan cepat. Namun, ia memiliki kelemahan, yakni butuh daya tekan kampas rem yang lebih kuat untuk menghasilkan friksi, seperti rem teromol. 

Sistem Rem Pada Mobil
Mengapa rem teromol tidak pernah usang? Hal itu karena jenis ini memiliki keunggulan pada daya pengeremannya nan hebat. Makanya, rem teromol banyak digunakan di kendaraan berat, seperti truk atau bus. 

Kemampuan melepas panasnya memang tak sebaik cakram, tapi konstruksi tertutup membuatnya lebih terlindung dari kotoran. Sering disebut juga dengan engine braking, rem ini memanfaatkan gesekan mekanikal dan hambatan tekanan silinder untuk memperlambat mobil saat pedal gas dilepas. 

Mengingat kecilnya efek pengereman ini, makanya fungsi engine braking hanya sebatas membantu kinerja sistem rem utama. Bila pada sistem rem cakram dan teromol, energi kinetik diubah menjadi energi panas, sistem elektromagnetik mengubah energi kinetik menjadi listrik. 

Caranya dengan memanfaatkan putaran roda untuk memutar dinamo yang menghasilkan listrik. Hambatan dari medan magnet dinamo inilah yang juga melambatkan kendaraan. Biasanya, sistem ini ada sebagai pendukung di mobil listrik.

Prinsip kerja sistem rem adalah mengubah tenaga kinetik menjadi panas dengan cara menggesekan dua buah logam pada benda yang berputar sehingga putarannya akan melambat. 

Oleh sebab itu komponen rem yang bergesekan ini harus tahan terhadap gesekan (tidak mudah aus), tahan panas dan tidak mudah berubah bentuk pada saat bekerja dalam suhu tinggi. 

 Macam-macam penggunaan rem adalah rem kaki digunakan untuk mengontrol kecepatan dan menghentikan kendaraan. Rem parkir digunakan terutama untuk memarkir kendaraan. Rem tambahan] digunakan pada kombinasi rem biasa/ rem kaki yang digunakan pada truk diesel dan kendaraan berat. 

Selanjutnya adakalanya engine brake digunakan untuk menurunkan kecapatan kendaraan breaking effect (reaksi pengereman) ditimbulkan oleh tekanan putaran dari mesin itu sendiri tidak ada peralatan khusus yang diperlukan. 

Rem kaki dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu hidraulis dan rem pneumatik. Rem hidraulis dan rem pneumatik rem hidraulis lebih respon dan lebih cepat dibandingkan dengan tipe lainnya, dan juga konstruksinya lebih sederhana. 

Rem hidraulis juga mempunyai konstruksi yang khusus. Dengan adanya keuntungan tersebut, rem ini hidraulis banyak digunakan pada kendaraan penumpang dan truk ringan. 

Sistem rem pneumatik termasuk kompresor atau sejenisnya yang menghasilkan udara bertekanan yang digunakan untuk menambah daya pengereman. Tipe sistem rem ini banyak digunakan pada kendaraan berat seperti truk besar dan bus. 

Master silinder mengubah gerak pada rem ke dalam tekanan hidraulis. Master silinder terdiri dari reservoik taut yang berisi minyak rem, demikian juga piston, dan silinder yang membangkitkan tekanan hidraulis. 

Ada dua tipe silinder: tipe tunggal dan tipe ganda (tandan) master silinder tipe ganda (tandan type master cylinder) banyak digunakan dibanding tipe tunggal. Pada master silinder tandan, sistem hidraulisnya dipisahkan menjadi dua, masing-masing untuk roda depan dan belakang. 

Dengan demikian, bila sudah satu sistem tidak bekerja maka sistem lainnya akan telah berfungsi dengan baik, sehingga pengereman masih bisa berlangsung. Tenaga penahan pada pedal rem dari seorang pengemudi tidak cukup kuat untuk segera dapat menghentikan kendaraan.

Boster/Brake Booster melipatgandakan daya penekanan pedal rem, sehingga daya pengereman yang lebih besar dapat diperoleh. Boster rem dapat dipasang menjadi satu dengan master silinder (tipe integrat) atau dapat juga dipasang secara terpisah dari master silider itu sendiri. 

Tipe integral itu banyak digunakan pada kendaraan penumpang dan truk kecil. Boster rem mempunyai diaphram yang bekerja dengan adanya perbedaan, tekanan antara tekanan atmosfi r dan kevacuman yang dihasilkan dari intake manifold mesin. 

Master silinder dihubungkan dengan pedal rem dan diaphram untuk memperoleh daya pengereman yang besar dari langkah pedal yang minimum. Bila boster rem tidak berfungsi dikarenakan satu dan lain hal, boster dirancang sedemikian rupa sehingga hanya tenaga bosternya saja yang hilang. 

Dengan sendirinya, rem akan memerlukan gaya penekanan pedal yang lebih besar, tetapi kendaraan dapat direm dengan normal tanpa bantuan boster. 

Untuk kendaraan yang digerakkan oleh mesin diesel, boster remnya diganti dengan pompa vacum karena kevacuman yang terjadi pada untuk manifold pada mesin diesel tidak cukup kuat. 

Boster rem terutama terdiri dari rumah boster, piston, diaphram, reaction mechanism dan mekanisme katup pengontrol. Boster body dibagi menjadi bagian depan dan bagian belakang dan masingmasing ruang di batasi dengan membran dan piston boster. 

Mekanisme katup pengontrol mengatur tekanan di dalam ruang tekan variasi. Termasuk katup udara, katup vakum, katup pengontrol dan sebagainya yang berhubungan dengan pedal rem melalui batang penggerak katup. 

Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Sistem Rem Pada Mobil"