Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peluang dan Tantangan Industri Komponen Otomotif Indonesia

Peluang dan Tantangan Industri Komponen Otomotif Indonesia

Peluang dan Tantangan Industri Komponen Otomotif Indonesia - Komponen-komponen kendaraan bermotor dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori (Media Data 2010) yaitu 
  1. engine system, 
  2. transmission system, 
  3. fuel system, 
  4. Cooling & Lubrication System, dan 
  5. electrical system. 

Masing-masing kategori terdiri dari beberapa komponen. Sebagai contoh, kategori engine system terdiri dari komponen cylinder block, cylinder head, cylinder head gasket, piston, piston pin, connecting rod, piston ring, crankshaft, crankshaft bearing/main bearing/metal, valve, valve spring, valve rocker arm, valve rockershaft, timing belt, intake manifold, dan exhaust manifold.

Berdasarkan kegunaannya, komponen dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu 
  1. universal atau general, 
  2. functional part, dan 
  3. original equipment. 
Kategori komponen universal atau general merupakan kategori untuk komponen-komponen yang dapat digunakan untuk beberapa merk kendaraan, sedangkan komponen-komponen yang termasuk dalam kategori komponen original equipment hanya dapat digunakan untuk kendaraan merk tertentu. 

Berdasarkan usia pemakaiannya, komponen dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu 
  1. fast moving component, 
  2. slow moving component, dan 
  3. consumable component. 
Fast moving component merupakan kategori untuk komponen-komponen yang usia pemakaiannya antara satu sampai dengan tiga tahun, slow moving component merupakan kategori untuk komponen-komponen yang usia pemakaiannya lebih dari tiga tahun, sedangkan consumable component merupakan kategori untuk komponen-komponen yang usia pemakaiannya kurang dari satu tahun.

Permintaan 

Berdasarkan pasar, industri komponen otomotif dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu 
  1. industri yang memasok Original Equipment Market (OEM), dan 
  2. industri yang memasok Replacement Market (REM). 
Industri yang memasok Replacement Market dikelompokkan dalam dua kategori yaitu 
  1. genuine parts, dan 
  2. non genuine parts. 
Penjualan komponen dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun permintaan dari luar negeri. 

Potensi pasar industri komponen otomotif khususnya kendaraan roda empat tidak terlepas dari peningkatan penjualan kendaraan di dalam negeri dan untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). 

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir peningkatan penjualan kendaraan roda empat di dalam negeri ditunjukkan pada Gambar.
Peluang dan Tantangan Industri Komponen Otomotif Indonesia
Peningkatan penjualan menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat di Indonesia terhadap kendaraan roda empat masih cukup tinggi.

Tingginya permintaan terhadap kendaraan roda empat akan berdampak pada meningkatnya permintaan terhadap komponen OEM maupun REM (genuine parts dan non genuine parts). 

Selain itu, jika memperhatikan usia pemakaian komponen maka permintaan terhadap komponen akan sangat tinggi khususnya untuk komponen-komponen yang masuk dalam kategori fast moving component dan consumable component. 

Pasar Replacement Market dalam negeri semakin berkembang (SENADA 2007) karena pasar tersebut merupakan alternatif bagi pelanggan yang tidak memilih, atau tidak mampu membeli komponen asli bermutu tinggi. 

Komponen impor buatan Cina, Taiwan, Thailand dan Vietnam telah mulai membanjiri konsumen di lapis paling bawah di pasar purna jual. Keberadaan produk impor dengan harga di bawah harga normal tersebut telah memaksa turunnya keseluruhan harga komponen umum dan komponen cepat rusak (fast-moving). 

Untuk memenuhi permintaan luar negeri, Indonesia mengekspor kendaraan roda empat dalam bentuk Completely Built Up (CBU) dan Completely Knocked Down (CKD). 

Dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan ekspor dalam bentuk CBU maupun CKD, seperti yang ditunjukkan pada Gambar. Peningkatan permintaan ekspor akan berdampak pada peningkatan permintaan komponen OEM maupun REM (khususnya genuine parts).
Peluang dan Tantangan Industri Komponen Otomotif Indonesia
Selain itu, Indonesia juga memenuhi permintaan komponen untuk luar negeri. Dalam tiga tahun terakhir jumlah ekspor komponen juga terus meningkat. Ekspor komponen (Kementerian Perindustrian 2012) pada tahun 2009 sebesar pieces, tahun 2010 sebesar pieces, dan tahun 2011 sebesar pieces.

Pabrikan Komponen 

Media Data (2010) menyatakan bahwa di Indonesia terdapat 200 perusahaan yang bergerak di industri komponen otomotif, yang 55% diantaranya merupakan perusahaan patungan (jont venture) dengan tingkat ketergantungan teknologi yang tinggi. 

Pabrikan komponen otomotif pada umumnya fokus pada pembuatan atau produksi satu jenis komponen sesuai dengan kemampuan teknis yang dimiliki. Berdasarkan basis produksinya, pabrikan komponen dikelompokkan dalam dua kategori (Media Data 2010) yaitu 
  1. pabrikan dengan produksi yang berbasiskan proses, dan 
  2. pabrikan dengan produksi yang berbasiskan pada produk. 
Pabrikan komponen otomotif yang berbasiskan pada proses memiliki teknologi dan mesin-mesin untuk melakukan proses produksi dalam menghasilkan produk. 

Sebagai contoh, pabrikan yang mempunyai teknologi proses cetak dengan alumunium (aluminum casting) dapat menghasilkan berbagai macam produk komponen otomotif yang dibentuk melalui proses cetak dengan alumunium, seperti tutup blok mesin dari alumunium atau velg dari alumunium. 

Pabrikan komponen otomotif yang berbasiskan pada produk memiliki teknologi dan mesin-mesin untuk membuat sebuah produk. 

Sebagai contoh untuk kategori ini yaitu pabrikan yang menghasilkan produk peredam kejut, pabrikan tersebut dapat memproduksi berbagai variasi dari peredam kejut atau produk-produk lain yang teknologinya menggunakan teknologi peredam kejut seperti penyangga pintu bagasi kendaraan. 

Pabrikan komponen menerima pesanan pembuatan komponen kendaraan dari pabrikan perakitan. Pabrikan perakitan akan menentukan spesifikasi teknis yang harus dipenuhi oleh pabrikan komponen. 

Menurut Media Data (2010) kualitas komponen lokal yang dapat diterima oleh perusahaan perakit kendaraan bermotor umumnya adalah perusahaan yang berada dalam kelompoknya, karena ada keterkaitan investasi termasuk teknologi produksinya. 

Selanjutnya Media Data (2010) juga menyatakan bahwa perusahaan lain diluar kelompok perusahaan ATPM, belum dapat memasukan komponen utamanya untuk perakitan kendaraan bermotor oleh perusahaan ATPM perakit, kecuali, perusahaan perusahaan yang berskala besar dengan tingkat teknologi produksi tinggi, kemungkinan besar produknya dapat diterima untuk komponen OEM. 

Sedangkan untuk perusahaan-perusahaan diluar kelompok perusahaan ATPM, produksinya lebih banyak untuk memenuhi pasar penggantian (replacement). 

Untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat, banyak pabrikan skala kecil dan menengah memasuki pasar, sehingga semakin memperluas pasar purna jual (aftermarket) atau pasar komponen suku cadang non-orisinil dalam negeri yang sudah besar dan menguntungkan tersebut (SENADA 2007). 

Kedua pasar itu didominasi oleh barang nonmerek, relatif bermutu rendah dan hyper-price sensitive alias paling murah. 

Pasar purna jual ini, yang utamanya dipasok oleh peritel bengkel perbaikan kecil, terus berkembang sebagai alternatif bagi pelanggan yang tidak ingin dan tidak mampu membeli suku cadang asli dengan merek terkenal dan harga mahal (SENADA 2007).

Bahan baku 

Bahan baku yang digunakan pada industri komponen otomotif sangat bervariasi. Variasi bahan baku berupa besi baja dan campuran besi baja (dengan bermacam komposisi), alumunium, perak, tembaga, bahan-bahan untuk cetakan, karet dan olahan karet, busa, dan kertas untuk pembuatan penyaring (filter). 

Bahan baku yang digunakan sebagian diperoleh dari hasil produksi dalam negeri. Apabila bahan baku hasil produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi persyaratan atau spesifikasi yang ditetapkan maka bahan baku harus diimpor dari luar negeri antara lain dari negara Asia seperti Jepang, Korea, Taiwan dan Cina. 

Bagi pasar dalam negeri (SENADA 2007), komponen kendaraan bermotor tanpa merk biasanya menggunakan kandungan bahan mentah lokal yang lebih tinggi demi menekan biaya. 

Keragaman dalam mutu bahan (SENADA 2007) terutama terkait dengan apakah suku cadang yang dihasilkan itu untuk pabrikan perangkat asli (OEM—original equipment manufacturer) yang merujuk ke perusahaan yang membeli produk atau komponen, lalu mendaur atau memasukkannya ke produk baru dengan nama dagangnya sendiri; atau dimaksudkan untuk dijual sebagai produk tanpa merk. 
Student Terpelajar
Student Terpelajar Content Creator, Video Creator and Writer

Posting Komentar untuk "Peluang dan Tantangan Industri Komponen Otomotif Indonesia "